Tupo bisa jadi ciri money game kalau?



Apakah tupo MLM atau tutup point dalam MLM menandakan money game? Di Indonesia, banyak MLM yang beroperasi dan membanggakan diri bukan money game (sebutan lain untuk skema piramida dan ponzi di Indonesia) dengan mengatakan bahwa ‘kami tidak ada uang pendaftaran, kami juga tidak ada syarat pembelian untuk menjadi mitra penjual’. Tapi betulkan mereka bukan skema piramida?

Bila mengacu pada hukum di Indonesia yang sangat lemah melawan skema piramida, ya, mereka bukan skema piramida. Tapi bila kita mengacu pada negara leluhur MLM, Amerika Serikat: Belum tentu. Harus dilihat lagi apakah: Sebagian besar produk dibeli oleh pengguna akhir? Atau hanya terdistribusi dalam jaringan? Kalau hanya terdistribusi dalam jaringan: Skema piramida. Baca disini: Money game dan skema piramida.

Kriteria itu muncul pada kasus Omnitrion International pada tahun 1996. Pada kasus itu, pengadilan disana memutuskan bahwa konsumsi pribadi dari mitra penjual tidak bisa disebut sebagai pembelian oleh pengguna akhir. Walaupun para mitra ini membeli produk untuk pemakaian pribadi, itu tidak dianggap sebagai pengguna akhir.



Contoh:

Sebuah MLM mempunyai skema pemasaran sebagai berikut:

  1. Tidak ada uang pendaftaran
  2. Tidak ada syarat beli produk untuk menjadi mitra
  3. Komisi upline diperoleh dari:
    • Belanja pribadi
    • Belanja para downline-nya kalau upline tersebut tupo (tutup point)

Sekilas tampak bersih. Semua komisi didasarkan pada pembelanjaan para mitra. Syarat tupo MLM tersebut pun wajar adanya. Karena itu justru bagus untuk memastikan bahwa upline juga aktif sebagai mitra. Tapi satu pertanyaan besar: Bagaimana kalau semua pembelanjaan itu hanya untuk tupo dan untuk pemakaian pribadi? Mungkin ada sebagian kecil yang dijual ke masyarakat, tapi sebagian besarnya hanya untuk pemakaian pribadi?

Pada kasus Omnitrion diatas, itu disebut skema piramida!

Logika tupo MLM money game kalau hanya untuk pakai pribadi

Untuk memudahkan, kita misalkan kondisi ekstrim sebagai berikut: Semua mitra beli produk hanya untuk tupo agar mendapat komisi pembelanjaan downlin. Produk Produk tidak dijual ke masyarakat umum, jadi fokus dari para member adalah mendapatkan downline dan terus tupo agar mendapat komisi dari downline-nya. Downline-nye pun melakukan hal yang sama. Fokus pada mendapatkan downline dan terus tupo agar mendapat komisi dari downline-nya (yang juga belanja hanya agar tupo). Makin lama, jumlah downline yang harus didapat harus makin banyak. Akhirnya jenuh dan member pada level terbawah tidak mendapat apa-apa.

Pertanyaan dan Jawaban

MLM yang cuma mengandalkan tupo untuk konsumsi pribadi cukup membingungkan karena mencampuradukkan produk, konsumsi pribadi, penjualan, pembelian, manfaat produk dan bisnis. Beberapa tanya jawab berikut mungkin dapat membantu.

Apakah MLM ini memang mengandalkan adanya pertambahan downline yang berlipat?

Ya. Karena sedikit produk yang dibeli ke masyarakat umum. Jadi, komisi setiap upline dari tupo para downlinenya. Downline tak ada habislah komisi.

Tapi ada juga lho orang yang bukan member membeli produk MLM ini. Apakah itu masih skema piramida?

Selalu ada orang yang mencoba. Yang perlu dilihat adalah berapa perbandingan antara total produk yang dibeli masyarakat umum dengan total produk yang dibeli oleh semua mitra (untuk tupo atapun untuk konsumsi pribadi).

Walaupun tidak ada donwline, mitra tak akan rugi untuk tupo, karena produknya mereka pakai sendiri?

Tergantung harapan dari si mitra. Apakah dia membeli prdouk murni karena manfaat produk, atau terpaksa memakai produk karena untuk tupo supaya mendapat komisi dari tupo downline-nya. Produk MLM seperti ini biasanya produk yang lebih mahal dari pasaran dan/atau klaim manfaat yang berlebihan. Mitra memakai produk yang lebih mahal dari pasaran, kemungkinannya karena untuk mencapai tupo. Bila dia adalah murni pembeli, dia akan pilih produk yang lain.

Banyak terjadi mitra MLM seperti ini rutin membeli barang hanya untuk tupo. Produk tidak habis sebulan, atau malah tak terpakai sudah harus beli lagi dengan harapan mendapat komisi dari tupo downline-nya. Komisi pun tak 100% mengganti biaya belanjanya. Karena dia perlu banyak downline untuk dapat mengganti biaya produk. Mungkin dia harus tupo 500.000 rupiah tapi mendapatkan komisi hanya 200.000 rupiah atau mungkin lebih sedikit. Kondisi ini bertahan berbulan-bulan. Belanja tupo dengan harapan suatu hari jumlah downline-nya cukup untuk menutup belanja tuponya. Bila tak tercapai (dan saat jenuh memang akan sulit tercapai), produkpun menjadi tumpukan barang berdebu di rumah. Dipakai tidak, terjualpun tidak.

Mengapa MLM seperti ini akan menghadapi masa jenuh, padahal jumlah orang sangat banyak yang bisa menjadi potensi untuk menjadi downline baru?

Jumlah orang memang banyak tapi potensi untuk menjadi downline suatu MLM sangat sedikit. Katakan jumlah penduduk Indonesia 260 juta. Dari jumlah itu hanya sebagian yang sudah dalam usia yang cocok sebagai pengguna produk MLM tersebut. Dari potensi pengguna, tidak semua membutuhkan jenis produk tersebut. Dari yang membutuhkan, tidak semua mampu harus tupo pada tahap awal. Dari yang mampu…tidak semua cocok (untuk MLM jenis suplemen dan kosmetik). Dari yang cocok tidak semua yang mau memilih produk tersebut dengan berbagai alasan.

Ada MLM yang semua membernya kebanyakan hanya tupo tapi bisa bertahan lama. Mengapa?

MLM seperti ini yanb bisa bertahan, menurut pendapat saya, adalah MLM yang mempunyai jaringan internasional. Mereka jenuh di satu area, jaya di area lain. Lalu saat generasi penjual baru sudah cukup banyak bermunculuan, mereka kembali ke area lama. Tapi tetap akan ada orang yang rugi dalam setiap generasi di setiap area.

Apakah MLM seperti ini bisa dianggap penipuan?

Dalam hukum Indoneisa tidak. Tapi bisa dikatakan MLM ini memperdaya orang. MLM seperti ini hanya ingin orang membeli produk mereka dengan iming-iming mendapatkan komisi bila mempunyai downline yang juga memakai produk mereka, ditambah berbagai janji bonus dan reward. Pada hakikatnya, MLM seperti ini hanya ingin barangnya banyak terjual….dikalangan mitra. Dan mitra menjadi mitra ‘pembeli’, bukan mitra ‘penjual’.

Apakah layak mengikuti MLM yang mitranya hanya tupo untuk mendapatkan komisi downlina?

Sama sekali tidak. Kemungkinan besar Anda hanya akan terpaksa menggunakan produk yang sebetulnya tidak Anda butuhkan, atau produk yang kemahalan sementara produk sejenis lebih murah dengan mutu yang sama banyak di pasaran.

Apa ciri khas dari MLM seperti ini yang mudah dikenali?

Kalau ada member MLM yang mengatakan bahwa mereka tidak fokus menjual, tapi membentuk jaringan pengguna, tak salah lagi bahwa MLM-nya adalah MLM yang hanya mengejar tupo untuk mendapatkan komisi tupo downline.

Kalau Anda melihat bahwa produk MLM tersebut kebanyakan hanya dibeli oleh kalangan mitra untuk digunakan sendiri, ini juga MLM yang cuma mengandalkan tupo.

Lalu apa ciri MLM yang bersih?

 

Cirinya: Produk laku di masyarakat umum. Produk lebih banyak terjual ke masyarakat umum, buka ke kalangan mitra. Kadang, untuk membuktikan hal ini cukup sulit. Kadang mungkin sampai memerlukan audit. Penilaian pribadi dapat membantu, yang dibangun atas dasar pengetahuan produk yang dijual dan produk sejenis yang ada di pasaran. Bila penilaian sulit dilakukan (biasanya MLM jenis ini menjual produk yang justru sulit dibandingkan) dan ragu, lebih baik cari aman: Coba jual dulu ke masyarakat umum. Laku? lanjut.



Semua iklan dalam situs ini dimunculkan oleh google, tergantung apa yang pernah Anda cari di Google atau kata yang terkandung di artikel. Iklan kadang bertentangan dengan isi artikel, menampilkan apa yang dikritik dalam artikel, diluar keinginan pengelola situs.

Leave a Reply