I-Coin Wirda Mansyur. Mau Beli? Ini resikonya

Wirda Mansyur, anak Yusuf Mansyur membuat token bernama I coin. Token ini sudah mulai dijual seharga sekitar seribu rupiah (kalau dirupiahkan). Mirip dengan Asix yang dimotori Anang Hermansyah, proyek dari I coin juga seputar game dan jual beli NFT.

Diluncurkannya I-coin ini menegaskan bahwa Wirda Mansyur benar-benar mengikuti jejak bapaknya: Senang menhimpun dana masyarakat. Apakah masyarakat diuntungkan? Sejauh yang terjadi pada kasus Yusuf Mansur…tidak.

Resiko beli I-coin

Bagaiamana resiko ikut-ikutan beli I-coin? Resikonya ambyar. Anda beli di harga sekitar 1000 rupiah, beberapa waktu ke depan bisa jadi 1 rupiah. Apakah ada kemungkinan harganya jadi sejuta rupiah? Kemungkinan itu ada, kalau I-coin makin banyak dicari orang, proyeknya berhasil, gamenya di mainkan jutaan orang, market place NFT nya juga rama dikunjungi orang.

Kemungkinannya lebih ke ambyar atau ke untung? Tergantung apakah proyek-proyeknya akan sukses atau tidak. Proyek dari I-coin diantaranya adalah membuat berbagai game dan pasar NFT. Bagaimana memperkirakan apakah proyeknya akan berhasil? Lihat teamnya. Ini salah satu kriteria penting. Apakah teamnya orang-orang profesional dan mumpuni? Untuk melihat apakah teamnya orang-orang yang mumpuni, lihat akun linkedin-nya, lihat apakah orang-orang tersebut punya CV yang bagus? Punya prestasi akademik yang bagus dan atau pernah bekerja di perusahaan ternama? Untuk orang teknikalnya, pernah buat game? Pernah buat software? Pernah kerja di industri game atau IT? Sukses? Atau cari di Github. Apakah orang tersebut ada? Apakah punya follower? Apakah pernah berkontribusi dalam suatu proyek?

Dan kalau melihat team dari I-coin….gelap. Chief of Technicalnya bernama Radka Mahichwal. Siapa dia? gelap. Tak resume, tak ada link akun Linkedin apalagi github yang diberikan. Adanya akun instagram. Itupun private (tak bisa dilihat isinya). Begitu juga dengan anggota team yang lain.

Team I-coin yang gelap.

Hei, apakah harus tergantung pada Linkedin dan Github untuk mengukur profesionalisme seseorang? Ya apalagi? Ok, bisa saja orangnya super introvert yang tak senang dikenal orang. Padahal dia berprestasi. Yaaa bisa saja. Akan lebih baik kalau I-coin atau Wirda Mansyur memperkenalkan teamnya. Siapa mereka? Apakah masyarakat bisa mengandalkan mereka sehingga rela setor uang untuk proyek yang dijalankan?

Token dengan team yang tidak jelas, proposal yang juga tidak jelas, kemungkinan cuma token yang dibuat untuk menggalang dana dengan mudah. Harga tinggi saat initial offering, jeblok beberapa waktu waktu kemudian. Yang beli di harga tinggi rugi. Yang cuan ya si pembuat dan kawan-kawan.

Hakikat beli token I-coin

Hakikat dari beli token semacam I-coin bisa dianalogikan dengan beli saham perusahaan, tapi perusahaannya baru berdiri. Sudah untung? Boro-boro. Berdiri aja baru. Akan untung? Ya berdoa saja.

Bedanya dengan beli saham beneran, orang jual saham itu melewati kriteria yang ketat. Ada laporan keuangannya, ada verifikasinya, ada segala macam tetek bengek yang harus dipenuhi sebelum saham bisa dijual di pasar saham. Pemerintah melindungi masyarakat supaya penipu tidak menjual saham ke masyarakat. Token? tidak ada.

I-coin itu illegal

I-coin belum mendapat izin dari Bappepti sebagai token yang bisa diperdagangkan di Indonesia. Dengan kata lain, I-coin itu illegal.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"