Vtube, Jaringan Penipu yang Membuat Orang Jadi Penipu

Vtube Jaringan penipu

Kalau di dunia jalanan, ada jaringan copet. Copet senior merekrut anak-anak remaja untuk jadi copet. Para pencopet baru inipun nantinya merekrut anak anak dan remaja lain untuk jadi copet. Jadilah jaringan pencopet. Para begundal copet ini bukan saja merugikan orang yang dicopet, tapi yang jauh lebih dahsyat adalah merubah orang lain menjadi kriminal.

Dan skema ponzi seperti Vtube juga mirip seperti itu. Dimulai dari para pentolan seperti Louis S Ridwan, Yunita Atmodjo, Wilbert Karimun. Mereka adalah para penipu. Berbohong supaya orang setor uang apakah bukan penipu? Jelas penipu. Hanya saja korbannya muncul nanti, saat Vtube kehabisan member baru yang mau keluar uang untuk fastrack.

Para pentolan vtube itu pasti tau bahwa Vtube penipuan. Atau mereka bukan pentolan, mereka pendirinya? Bisa jadi. Paling tidak mereka tau bahwa vtube itu sesungguhnya bukan bisnis periklanan. Kenapa? Karena mereka mengaku sering bertemu pihak manajemen yang entah siapa. Kadang mereka bicara dengan gaya sepertinya mereka pihak manajemen vtube atau yang punya vtube.

Lalu mereka menyebarkan kebohongan bahwa vtube adalah bisnis periklanan. Keuntungan yang diperoleh member adalah dari profit sharing. Vtube memperoleh uang dari para pengiklan dan membagikan keuntungannya kepada para member Vtube bla-bla-bla.

Dan mereka, baik langsung maupun tidak langsung, mendidik orang lain untuk berbuat hal yang sama. Menipu orang lain, berbohong bahwa Vtube adalah bisnis periklanan supaya orang setor uang dengan cara…fast track. Persis seperti para begundal copet yang merekrut anak-anak jadi pencopet, mereka merekrut orang untuk sama-sama jadi penipu.

Mengerikan? Ya. Tapi itu belum seberapa. Yang paling membuat mata terbelalak adalah mereka semua melakukan itu terang benderang. Tanpa malu dan rasa takut. Bukan saja menipu, tapi mengajak orang jadi penipu dan itu dilakukan terang benderang.

Dan aparat hukum membiarkan. Mengapa?

Cukup mengherankan memang kenapa aparat hukum cenderung membiarkan skema ponzi seperti Vtube. Lewat OJK dan Satgas Waspada Investasi, pemerintah memang sudah menghimbau orang untuk tak terlibat di Vtube. Mereka juga memasukkan Vtube dalam daftar bisnis illegal. Tapi mana cukup?

Hampir di semua skema ponzi di Indonesia, aparat hukum memang cenderung membiarkan. Satu-satunya kasus dimana aparat hukum melakukan intervensi tanpa adanya laporan korban hanyalah pada kasus Memiles (itupun akhirnya pentolannya dibebaskan). Ada satu kasus lagi sebetulnya, CSI. Tapi di kasus CSI tidak begitu jelas apakah ada laporan korban atau tidak.

Selebihnya, pemerintah menunggu skema ponzi itu bubar dengan sendirinya, menunggu laporan korban yang dirugikan baru memprosesnya secara hukum. Itupun tak semua diproses hukum.

Penipuannya jelas dan mudah dibuktikan. Tinggal panggil dedengkotnya seperti Yunita Atmodjo atau Louis S Ridwan. Gali informasi, siapa sebetulnya manajemennya? Selidiki mana ada perusahaan yang pasang iklan? Akan mudah terbukti bahwa orang-orang seperti Louis S Ridwan itu menyebarkan kebohongan supaya dapat untung. Potensi merugikan masyarakat pun jelas. Itu logika matematika yang sederhana saja: Bahwa kebutuhan member baru meningkat secara eksponensial dan suatu saat pasti tak bisa terpenuhi. Saat itu member yang belum lama bergabung akan rugi.

Satu hal lagi yang seharusnya membuat pemerintah dan aparat hukum bertindak adalah: Skema ponzi semacam vtube itu adalah jaringan yang membentuk banyak orang untuk sama-sama jadi penipu dan tak malu-malu menipu. Luar biasa sebetulnya kalau pemerintah membiarkan sebagian rakyatnya dididik menjadi penipu.

8 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"