Pelajaran dari Paytren (2): Bagaimana memilih MLM?

MLM Paytren, nasibmu kini

Paytren sudah sepi. Member baru tinggal sedikit. Atau mungkin tak ada lagi. Member yang belum lama bergabung rugi. Aplikasi tak bermanfaat. Komisi dari perekrutan member baru pun tak ada.

Ada berapa banyak member yang rugi? Tak bisa diketahui angkanya. Tapi yang pasti, jauh jauh jauh lebih banyak yang rugi daripada yang mendapat keuntungan. Yang pasti, kata-kata Yusuf Mansur bahwa Paytren itu membuat orang mudah pergi haji telah terbukti. Terbukti bohongnya.

Begitulah MLM skema piramida. Orang kita bilangnya moneygame. Cuma oper-oper uang member baru ke member lama. Produk cuma kamuflase.

Pelajaran dari Paytren: mengenali MLM moneygame / Skema piramida

Dari pendirinya yang ‘ustadz’, dari label syariah yang dikeluarkan MUI, dari izin e-money, Paytren itu seperti bisnis yang benar-benar OK. Sulit bagi orang untuk menyanka bahwa bisnis ini cuma moneygame atau skema piramida yang akhirnya merugikan orang banyak.

Lalu bagaimana sebenarnya mengenali MLM skema piramida?

Pertama adalah, jangan terkecoh sama siapa pendiri, legalitas dan label. Indoneisa bisa dibilang negri subur bagi bisnis skema piramida. Regulasi yang melarang memang ada, tapi sebatas peraturan Menteri. Penegakannya pun lemah.

Lalu bagaimana memilih MLM yang benar supaya tak terjebak skema piramida seperti Paytren? Apakah harus terdaftar di APLI? Tidak. Sebab Paytren adalah anggota APLI. Juga, MLM yang paling terkenal di dunia sebagai skema piramida, Qnet adalah anggota APLI dulunya. Apakah harus bersertifikat syariah? Juga tidak. Sebab Paytren mendapat sertifikat syariah dari MUI. Lalu apa?

Ciri utama MLM moneygame: Jadi member harus beli produk

MLM moneygame (skema piramida) pasti mensyaratkan calon membernya untuk beli produk. Sebab itulah tujuan mereka. Supaya Anda beli produk murahan mereka. Mengapa mereka harus pakai modus mengajak orang bisnis, cepat kaya, cepat sukses? Karena kalau jual dengan cara biasa, produk mereka TIDAK LAKU!

Produk mereka tak akan laku dijual dengan cara biasa. Maka mereka mengajak orang jadi member, tapi dengan syarat harus beli produk mereka. Dan akibatnya, MLM seperti ini akan bergantung pada pertambahan member baru. Bergantung pada tumbuhnya jaringan piramida. Tanpa adanya, atau tanpa banyak member baru, bubarlah semua.

Contohnya Paytren. Paytren mensyaratkan calon member untuk membeli aplikasi untuk menjadi member MLM-nya. Harganya Rp 350.000 untuk setiap lisensi aplikasi. Member hanya dapat uang kalau bisa menjual aplikasi. Siapa yang mau beli aplikasi? Tak ada, kecuali…calon member.

Contoh lain dari MLM dengan modus ini:

  • Eco Racing
  • CAR 3i Network (walaupun mengaku bukan MLM)
  • Fingo (walaupun mengaku bukan MLM)
  • MSO atau BTD (support system Amway)
  • Melia Sehat
  • Smart In Pay

Hati-hati dengan siasat MLM Skema piramida.

MLM kema piramida pasti mensyaratkan adanya pembelian produk saat orang jadi member. Dalam permendag pun (permendag No. 70 2019) hal itu sudah dilarang. Tapi beberapa MLM melakukan siasat supaya praktek tersebut tak kentara.

Contoh Paytren. Paytren mengaku produknya adalah pulsa dan seabrek jasa pembayaran online. Apakah orang harus beli pulsa, beli tiket dan lain lain untuk jadi member Paytren? tidak. Kelihatannya OK. Tak ada syarat beli. Tapi member harus membeli lisensi aplikasi Paytren. Inilah produk mereka sebetulnya. Member mendapat komisi kalau bisa merekrut member baru yang membeli lisensi. Lisensi inilah sebetulnya produk utama MLM mereka mereka.

Ada juga siasat MLM yang mengatakan daftar tak perlu beli apa-apa, hanya uang pendaftaran yang murah. Tapi mereka mengatakan itu hanya supaya kelihatan memenuhi aturan dalam permendag No. 70 2019. Keanggotaan seperti itu member hanya bisa menjual produk yang justru tak laku dijual dengan cara biasa. Juga, member tak bisa mendapat downline. Jadi bisa dibilang sebetulnya hanya jadi reseller dengan produk tak laku, bukan jadi member MLM. Siasat ini dilakukan oleh Eco Racing.

Pada akhirnya, member diminta upgrade keanggotaan dan harus membeli produk. Dan itu sebetulnya juga melanggan permendag No. 70 2019.

Ciri lain MLM skema piramida

Intinya, MLM skema piramida itu cuma ingin Anda membeli produk mereka dengan modus mengajak jadi member. Ciri-ciri lain juga ada, tujuannya sama: Supaya member dan calon member keluar uang untuk mereka sebannyak-banyaknya. Contoh ciri lain: Ada uang pendaftaran yang tak masuk akal, ada member yang bisa mempunyai beberapa ID keanggotaan sekaligus, ada

Apa yang terjadi sebetulnya bila Anda ikut MLM skema piramida?

Yang terjadi sebetulnya adalah:

Pertama, Anda diperdaya. Anda ditawari jadi member, diiming-iming sukses, padahal cuma supaya Anda memberli produk MLM yang manfaatnya tak sebanding dengan harga.

Yang kedua, yang lebih parah, Anda diperdaya untuk membantu mereka mencari korban selain Anda. Mau?

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"