Pelajaran dari Paytren (1): Bualan Tiga Ustadz

Bualan dan kenyataan

Dulu, kata sang Ustadz Yusuf Mansur, Paytren itu bikin orang gampang cari duit. Gampang umroh, pergi haji sampai umroh. dulu, kata sang Ustadz Syauqie Beik, tak akan ada yang dirugikan di paytren. Bahkan kalau semua orang di muka bumi sudah ikut Paytren, orang terakhir tak akan rugi. Sebab aplikasinya tetap bermanfaat. Dulu, kata Ustadz Syafii Antonio, Paytren adalah syariah dan akan menjadi perusahaan multi nasional.

Kenyataannya, hanya segelintir orang yang bisa mendapatkan penghasilan dari Paytren. Hanya sejumlah hitungan jari orang yang bisa sampai mendapatkan rumah dari Paytren. Atau mungkin tak ada? Apa yang akan kau katakan sekarang, Yusuf Mansur?

Kenyataanya, sekarang ribuan atau mungkin ratusan ribu orang gigit jari. Mereka sudah keluar uang sampai jutaan rupiah dan rugi. Dan mereka masih jauh dari hitungan member terakhir di muka bumi. Apa yang akan kau katakan sekarang, Syauqie Beik?

Kenyataannya, Paytren sekarang meredup. Mati pelan-pelan dengan senyap. Omongan akan menjadi perusahaan multinasional hanya bualan. Dan kenyataannya, Para Kiai di Nahdathul Ulama mengatakan Paytren itu HARAM. Apa yang akan kau katakan sekarang, Syafi’i Antonio?

Mengapa Kenyataan itu berakhir pahit?

Karena Paytren adalah moneygame. Lebih tepatnya adalah skema piramida. Produk (aplikasi Paytren) hanyalah kamuflase atau bisa juga dibilang alat untuk oper-oper uang dari member baru ke member lama.

Ciri utama skema piramida adalah harga produk yang jauh di atas manfaat. Member tak mendapat manfaat dari produk. Member hanya mendapat keuntungan kalau berhasil merekrut member baru. Dari perekrutanlah penghasilan itu berasal.

Akal yang sehat akan mudah menebak bahwa pada akhirnya skema seperti Paytren akan runtuh. Kenapa? Karena jumlah orang yang bisa direkrut itu terbatas. Dibatasi oleh jumlah manusia, peminat, demografi dan sebagainya. Dan saat runtuh, member yang rugi akan luar biasa banyak jumlahnya. Mereka tak mendapat manfaat produk yang sebanding. Mereka juga tak bisa merekrut member baru karena sudah runtuh.

Itulah yang terjadi sekarang.

Skema seperti itu merugikan orang banyak. Itu makanya di Amerika Serikat (tempat lahirnya MLM), skema seperti ini terlarang.

Para Ustadz itu, mengapa begitu?

Para Ustadz itu terlalu mudah mengeluarkan bualan demi uang. Untuk ukuran Ustadz yang adalah guru, tauladan ummat, menghalalkan dan membela sesuatu yang pasti akan merugikan banyak orang adalah sesuatu yang bisa dibilang nekat. Dan untuk Yusuf Mansur dan Syafii Antonio, Paytren bukanlah yang pertama. Yusuf Mansur pernah pula berbisnis dengan skema yang sama: E-miracle. Syafii Antonio pernah pula mendukung Duta Business School, moneygame yang jelas sudah roboh saat kelahiran Paytren.

Dan yang mengerikan adalah, dua Ustadz tersebut (Syauqie Beik dan Syafii Antonie) berlabel intelektual ekonomi syariah. Beberapa orang malah melabelkan mereka sebagai pakar Ekonomi syariah. Apakah ekonomi syariah menghalalkan bisnis yang pasti merugikan banyak orang? Yang di negara ‘kafir’ pun bisnis ini terlarang?

Mungkin ada sesuatu yang menghalangi pikiran mereka, sehingga daya pikir menjadi tumpul. Atau mungkin ada hal yang membuat mereka rela menghianati amanah sebagai guru ummat.

Atau sebetulnya mereka bukan Ustadz?

Cerita pahit Paytren itu seharusnya memberi pelajaran bagi banyak pihak. Untuk orang yang disebut guru, untuk orang yang menyebut mereka sebagai guru.

Tentang banyak orang rugi di Paytren: Keluhan para korban.

Tentang syauqie Beik: Kesimpulan sembrono Syauqie

Tentang Syafii Antonio: Paytren akan menjadi multinasional

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"