Kita tak Terlindung dari Bejatnya Skema Ponzi

Kata Koes Plus, Indonesia itu negeri subur. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Mungkin kalau Koes Plus anggota anggota grup Masyarakat Anti Ponzi, lagunya akan beda. Sebab Indonesia itu bukan cuma subur tanamannya, tapi subur skema ponzi-nya.

Baca juga: Apa itu skema ponzi

Konon kerugian penipuan bisnis ilegal mencapai 80 trilyun dalam 10 tahun terakhir. Dan kebanyakan memakai skema ponzi. Hampir lipat 2 dari kerugian bencana dahsyat tsunami Aceh.

Kejahatan skema ponzi menyasar berbagai golongan. Sebagian korban mungkin kehilangan tabungan, sebagian menjadi terjerat hutang, sebagian lagi kehilangan mata pencaharian dan jatuh miskin. Ada petani kehilangan sawah karena terkena bujukan busuk untuk ikut skema ponzi. Ada juga pensiunan yang sampai kehilangan uang pensiun dan rumah yang dimiliki.

Tapi menyadari dahsyatnya kerugian dari skema ponzi tak membuat pemerintah lebih tegas. Yang mengenaskan, makin hari skema ponzi malah makin menjamur. Ada berapa skema ponzi yang sekarang sedang menjaring mangsa? Per bulan Juli 2020 ini, ada Auto Gajian, ada HIPO dengan berbagai turunannya, ada Give4Dream juga dengan berbagai turunannya, ada Vidycoin mining, ada gramfree, ada Vtube.

Banyak faktor yang membuat skema ponzi makin subur. beberapa diantaranya karena pemahaman yang rendah orang Indonesia tentang investasi, pemahaman yang rendah tentang skema ponzi, juga mungkin standar moral yang hancur (orang tak pernah merasa bersalah pernah ikut dan mengajak orang lain sebuah skema yang sebetulnya adalah skema mencuri sesama secara halus).

Penyebab di atas mungkin butuh waktu lama untuk dihilangkan. Tapi ada satu penyebab yang mungkin lebih mudah untuk diselesaikan: Faktor ketidaktegasan pemerintah. Tindakan pencegahannya minim, tindakan penindakannya juga minim.

Pemerintah kurang lakukan pencegahan

Pencegahan murni dalam arti benar-benar mencegah sesuatu terjadi sebelum kejadian, mencegah munculnya skema ponzi bisa dibilang tak ada atau paling bagus dibilang: terlalu lemah. Itu bisa dilihat dari begitu beraninya orang-orang memunculkan skema ponzi baru.

Tapi pencegahan yang ‘lebih mudah’ pun tak ada. Pencegahan itu bisa dilakukan dengan langsung menangkap dalang skema ponzi begitu skema ponzi itu muncul. Apakah mungkin? Mengapa tidak.

Skema ponzi itu punya banyak celah untuk diperkarakan tanpa pengaduan korban. Mereka pasti mengeluarkan berbagai kebohongan supaya orang setor uang. Itu mudah dibuktikan.

Apa sulitnya membubarkan Skema Ponzi menyamar bisnis?

Skema ponzi yang menyamar bisnis seperti HIPO dan Give4Dream. Adalah hal yang logis kalau pemerintah mencium bau busuk karena adanya tawaran profit yang tinggi. Untuk memperolah bukti bahwa mereka adalah skema ponzi juga tidak sulit. Audit keuangan yang sederhana pun bisa membuktikan bahwa profit itu berasal dari uang member sendiri. Terbukti? Ciduk. Ciduk karena mereka sudah mengumbar kebohongan: Mengatakan profit dari suatu bisnis padahal bukan.

HIPO: Sangat mudah membuktikan bahwa keuntungan yang diperoleh member bukan dari bisnis PPOB atau bisnis apapun yang diklaim oleh dalang skema ponzi di HIPO.

Give4Dream: Juga tak sulit membuktikan bahwa keuntungan member itu bukan dari kenaikan harga wincash coin atau penambangannya. Cukup dampingi auditor keungan dengan orang yang paham teknologi blockchain.

Apa sulitnya membubarkan skema ponzi ‘saling tolong’?

Skema ponzi yang berlindung dibalik skema saling menolong, sedekah dan semacamnya. Ini juga tidaklah sulit. Skema ponzi seperti ini juga pasti mengumbar kebohongan supaya orang setor uang.

Misalnya: Mereka menawarkan orang untuk setor 1 juta dan nanti akan dapat 101 juta. Ini artinya setiap peserta membutuhkan 100 orang peserta baru. Anggap dalang skema ponzinya baik hati dan tak memotong duit peserta sepeserpun.

Secara matematika skema ini pasti mentok sebab jumlah orang itu terbatas. Jadi pasti akan ada yang dirugikan. Bukan ada potensi ada yang akan dirugikan, tapi pasti akan ada yang dirugikan. Apa kepastian itu belum cukup untuk melakukan penindakan?

Beberapa skema ponzi seperti Auto Gajian mengatakan, ‘hei, nanti kalau mentok, yang sudah dapat untung akan ikut sebagai peserta baru’. Ini yang bicara pasti nilai matematikanya jeblok.

Dirunut dari awal, misalnya dimulai dari 10 peserta. Berturut turut peserta baru di perioda berikutnya: 1000, 100.000. Lalu mentok. Lalu katanya yang lama akan setor uang lagi. Bagaimana caranya 1010 orang memberi keuntungan bagi 100.000 orang? Berapa yang 1010 orang itu harus setor uang supaya yang 100.000 orang itu tidak rugi? Silahkan hitung. PR.

Intinya, skema ponzi yang berlindung dalam skema tolong menolong itu juga kebohongan, penipuan dan ada kepastian akan ada orang yang rugi jauh lebih banyak dari yang untung. Mengapa tidak bisa ditindak?

Pemerintah selalu terlambat dan ala kadarnya

Tindakan terbaik pemerintah yang ada adalah dalam kasus PT CSI dan Memiles. Kedua skema ponzi itu benar-banar dihentikan dan dedengkotnya diciduk sebelum adanya pengaduan korban.

Selebihnya pemerintah hanya mengeluarkan press release melalui Satgas Waspada Investasi: Bahwa suatu entitas adalah investasi ilegal. Untuk penindakan pemerintaha menunggu laporan korban. Bahkan setelah adanya laporanpun tak otomatis cepat ditindaklanjuti. Give4dream saat ini sudah ada yang melapor. HIPO juga. Tak ada berita kelanjutan kasus yang menggembirkan untuk pembasmian skema ponzi.

Mengapa begitu? Sulit dimengerti. Membiarkan mereka sama saja membiarkan ada korban-korban baru yang akan terjerat. Apalagi bila skema ponzi sudah tak mampu bayar. Tak perlu menunggu lama untuk korban merasakan pahitnya tertipu skema ponzi.

Juga, membiarkan sebuah skema ponzi tetap berjalan sama saja membiarkan banyak orang menjadi maling. Membiarkan mereka terang-terangan mendapat uang dengan skema memaling sesama.

Penghukuman yang tak membuat jera

Ada banyak dalang skema ponzi yang dihukum. Dedengkot di PT CSI, Pandawa, Memiles, Abu Tour, First Travel adalah contoh-contohnya. Tapi lebih banyak lagi dedengkot yang tidak mendapat ganjaran sedikitpun dari penipuannya.

Yang mengerikan adalah kasus Dream4Freedom. Dari sekian banyak dedengkot skema ponzi ini, hanya satu yang dihukum: Filli Muttaqien. Belasan orang selebihnya bebas:

Mengerikannya kasus Dream4Freedom karena di kemudian hari, para anteknya ‘merasa aman’ untuk membuat skema ponzi baru. Mungkin sebagian besar skema ponzi yang ada sekarang di Indonesia dibuat oleh ‘alumni’ Dream4Freedom. Ini beberapa contoh:

  • Angga Purwa: Mendirikan ponzi SPS Coin
  • Andi Junaedi: Mendirikan HIPO
  • Erwin Noviantara: Mendirikan Give4Dream
  • Nomo Ariawan: Dedengkot Give4Dream
  • Michael Tan: Mendirikan MLM Skema Piramida Smart In Pays
  • Ignatius Edi Siswandi: Mendirikan Ponzi Algopack

Kiprah para alumni Dream4Freedom itu memberikan gambaran tentang dampak besar dari hukum yang lemah terhadap pelaku skema ponzi. Sebuah skema ponzi menjadi semacam akademi untuk mencetak para promotor skema ponzi baru.

Tentu saja, untuk melakukan penindakan memang banyak pertimbangan. Mungkin pemerintah terhadang kesulitan yang besar? Kita tak tahu. Tulisan ini hanya memaparkan fakta apa adanya. Bahwa kita tak terlindung.

Catatan: gambar cover diambil dari gambar yang banyak beredar di komunitas Auto Gajian: Dedengkot yang berfoto di depan kantor OJK.

Upaya dedengkot Auto Gajian untuk memberi kesan Auto Gajian tak bermasalah dengan OJK.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"