Supaya Tak Terjerat Penipuan seperti Give4Dream

Penipuan give4dream dengan wincash coin-nya itu bukan cerita baru. Sebelumnya sudah banyak. Ada ada One Coin, Bitconnect, SPS Coin, Java Coin, NPC Coin.

Kenapa orang tertipu? Karena awam. Kerumitan dalam teknology blockchain membuat para maling mudah bersandiwara sebagai jagonya bisnis blockchain.

Bagaimana supaya tak tertipu?

Lihat siapa pendirinya.

Tak jelas? tak terkenal sebagai orang yang punya kompetensi di bidang cryptocurrency? Jangan ikut.

Untuk tahu apakah seseorang punya kompetensi di bidang cryptocurrency itu tak mudah juga. Anda harus tahu siapa dia. Apakah cukup populer di Linkedin? Cukup terkenal di Github? Apakah jaringannya memang orang-orang dari dunia cryptocurrency? Apakah punya prestasi di teknologi blockchain? Atau di teknik informatika? Bukan sekedar bikin mobile app ya. Itu anak-anak juga bisa.

Di Wincash Coin, pendirinya adalah Yosep dan Erwin. Walaupun mereka berdua tidak mengaku. Tapi di Indonesia, merekalah dedengkot utama. Dan karena di luar negeri tak ada orang yang bermain wincash coin, bisa dibilang bahwa mereka lah pendirinya.

Siapa mereka berdua? Mantan penipu di Dream for Freedom dan sederet penipuan lainnya. Juga mantan pebisnis bank keliling alias rentenir.

Kompetensinya di bidang blockchain? Tak ada. Sebab rentenir itu tak butuh crypto-cryptoan. Kalaupun ada track record, Erwin Noviantara itu cuma pemain cryptocurrency penipuan juga semacam oke coin dan Alchemy.

Lihat White Papernya.

White paper itu semacam proposal yang menjelaskan kenapa perlunya sebuah cryptocurrency baru. Disitu ada tujuan, ada solusi dari masalah yang ada. Ada misi.

Menilai white paper dari sebuah cryptocurrency yang baru dimunculkan itu perlu pengetahuan tentang teknologi blockchain juga. Coba baca whitepaper etheureum ini. Tak paham blockchain hanya bikin pusing kepala.

Di Give4dream, white papernya sangat general. Tak bikin pusing kepala, sebab memang tak ada apa-apanya. Parahnya, white paper Wincash coin adalah contekan dari sebuah artikel.

Jangan percaya kata orang

Kalau tak bisa menilai kompetensi pendiri, tak bisa menilai white paper, jangan juga percaya sama orang lain.

Cryptocurrency baru biasa pake bounty program. Orang-orang yang mendapat bayaran dari mempromosikan cryptocurrency baru. Mereka tentu bicara yang positif-positit saja.

Lebih parahnya kalau cryptocurrency berskema ponzi seperti wincash coin. Orang dapat untung kalau bisa mengajak orang lain investasi. Maka internet pun banjir dengan info sesat. Sulit mendapatkan info yang akurat.

Janji untung besar dan/atau tetap? Pasti skema ponzi.

Tak ada cryptocurrency baru yang bisa menjamin akan menghasilkan keuntungan bagi investornya. Pendiri yang kompeten pun tidak, apalagi pendirinya cuma mantan rentenir.

Cryptocurrency banyak digunakan sebagai kedok untuk skema ponzi. Malah kelihatannya sedang jadi model yang ngetren. Itu karena regulasi tentang cryptocurrency masih kurang kuat. Juga karena tindakan hukum bagi para penipu tidak ditegakkan. Orang seperti Erwin Noviatara berani berulang-ulang membuat penipuan.

Penipuan itu kini terbukti

Semua yang diulas dalam bahasbisnis.com akhirnya terbukti. Baca Cara bubarnya Give4dream dan alamat yang bisa dihubungi. Sekarang korban mulai beregerak melaporkan Give4Dream ke polisi. Tapi dimana sebetulnya penipuannya?

Janji profit tetap padahal tidak, itu penipuan. Memperdagangkan cryptocurrency diluar lembaga berizin juga melanggar undang-undang. Ini terjadi waktu Wincash Coin belum dilempar ke market. Serangkaian kebohongan lain juga banyak kalau mau digali. Klaim bahwa wincash coin akan bertahan lama, bahkan tentang apakah sebetulnya wincash coin itu cryptocurrency? Kalau ya, ada jaringan blockchainnya? Polisi bisa membuktikan bahwa itu tak ada. Tak ada blockchain berarti bukan cryptocurrency.

Baca juga: Kenali berbagai bisnis online penipuan

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"