Cerita tentang skema piramida Eco Racing

Tulisan ini sekaligus supaya pembaca paham apa itu skema piramida, kenapa orang bikin MLM berskema piramida.

Awal mula Eco Racing jadi skema piramida

Tersebutlah seorang ‘lulusan’ ITB. Namanya Febrian Agung. Dia ingin menjual pil yang terbuat dari kapur barus. Kapur barus yang dikemas sebagai pil ajaib untuk kendaraan. Bisa membuat irit bensin sampai membersihkan mesin (ngibulnya). Dia bungkus seperti permen dan kasih merk Eco Racing.

Febrian ingin menjualnya dengan harga mahal. 3000 an perak sebiji. Tentu supaya dia dapat untung besar. Tapi mana bisa kapur barus dijual dengan harga segitu? Aha. Jangan remehkan Febrian. Dia ahlinya. Bukan ahli marketing, tapi ahli tipu daya. Bagaimana caranya?

Caranya, tawarkan sebagai paket untuk jadi mitra usaha, lengkap dengan iming iming cepat kaya. ‘Ayo mas, mba, jadi mitra usaha eco racing, nanti sukses deh. Bisa dapat mobil dan rumah mewah. Syaratnya beli eco racing seember, ya’. Karena orang Indonesia itu relijius, perlu ditambah juga dengan slogan yang islami. ‘Ayo mas, mba, Eco Racing itu mendatangkan berkah tanpa riba. Go Berkah No Riba. Jleb. Orangpun membeli Eco Racing. Bukan karena mereka butuh, tapi karena iming iming berkah tanpa riba.

Lalu, para mitra usaha yang sudah terpedaya itu didorong untuk bantu Febrian agung. Bukan untuk jual produk ke pengguna umum. Mana laku. Bantunya dengan  mencari mitra baru. Mereka harus ajak teman dan handai tolan mereka. Mantranya harus sama. Ayo jadi mitra Eco Racing. Nanti sukses. Go Berkah No Riba. Tapi…beli dulu eco racingnya.

Asik bukan? Orang-orang yang terpedaya itu akan menjadi pasukan Febrian Agung. Membuat Eco Racing ‘dibeli’ orang dalam jumlah yang banyak. ‘Dibeli’ sebagai syarat jadi mitra go berkah no riba.

Maka jadilah Eco Racing sebuah bisnis perdagangan yang semua mitranya fokus cari mitra baru. Jual produk hanya pada mitra baru atau mitra lama (dengan iming iming repeat order dapat point). Jual produk ke publik? Tanpa ada sangkut paut dengan pendaftaran kemitraan? Ada sih, sedikit. Sekali lagi, mana laku? Tanpa iming iming sukses jadi mitra, produk itu susah lakunya.

Dan itulah yang disebut skema piramida. Skema piramida adalah bisnis perdagangan yang para mitranya lebih fokus cari mitra baru. Tak ada mitra baru mereka tak dapat untung. Mitra baru harus lebih banyak dari waktu ke waktu. Makin melebar dari waktu ke waktu. Itulah mengapa orang menyebutnya skema piramida.

Baca juga:

Bahas produk dan bisnis Eco Racing

Apa itu skema piramida

Dan skema piramida itu bukan cuma karena bentuknya segitita. Kalau begitu struktur organisasi juga disebut skema piramida. Bukan. Orang-orang MAP akan tertawa kalau kalian bilang begitu. Skema piramida itu sistem perdagangan. Sistem perdagangan yang kebanyakan mitranya lebih fokus cari mitra baru supaya produk terjual. Bukan menjual ke masyarakat umum. Lengkapnya adalah sistem perdagangan berskema piramida.

Lalu bagaimana sebetulnya skema piramida itu? Apakah OK? Apakah boleh? Apakah bisa menghasilkan cuan? Apakah benar bisa bikin sukses?

Tentang perdagangan berskema piramida Eco Racing

Perdagangan yang lucu

Lucu lho bisnis perdagangan yang mitra usahanya, atau agennya, fokus cari mitra usaha baru. Lucunya tuh, setiap mitra usaha berlomba-lomba merekrut pesaing.

Kelucuan itu bisa digambarkan kalau kita bayangkan ada suatu kampung. Penduduknya ada 1000 orang. Lalu ada seorang mitra Eco Racing. Bukannya dia menjual Eco Racing ke penduduk kampung, dia malah merekrut mitra usaha baru. Dia ingin dapat mitra downline 600 biji. Dan dia berhasil. Maka akhirnya ada 601 mitra penjual Eco Racing. Pasarnya cuma 399 orang. Persainganpun jadi luar biasa ketat. Lucu yah? Orang usaha kok segitu niatnya cari pesaing dalam jumlah yang luar biasa banyak.

Sistem yang merugikan yang belakangan.

Masih dikampung tadi. Satu orang mitra Eco Racing tadi berhasil mendapat 600 orang mitra downline. Lalu 600 orang itu dapat apa? Lha sisa penduduknya cuma 399. Pada berebut lah ke 600 orang itu. Hayayah. Mau berebut sampai berdarah-darah pun tetap saja paling dapat downline 1. Lha 399 orang diperebutkan 600 orang. Kalau cuma dapat satu, ya rugi. Beli Eco Racing 1,5 juta, cuma dapat komisi 150 ribu perak.

Jadi, dalam perdagangan yang setiap mitranya cuma fokus cari mitra baru. Begitulah adanya. Mitra yang belakangan masuk akan makin sulit cari mitra baru. Merekalah orang yang rugi.

Lhooo, tapi kan itu perumpamaan di kampung kecil. Negara kita kan besar. Ada 300 juta lebih.

Sama saja. Mau berapapun jumlahnya, pasti akhirnya tak ada lagi orang yang bisa diajak jadi mitra. Habis.

Apalagi orang yang potensial jadi mitra tidaklah 300 jutaan. Ada faktor lain yang membut calon mitra potensial itu lebih sedikit dari jumlah penduduk. Faktor agama, umur, pendapatan dan sebagainya. Biasanya member sudah beberapa ratus ribu saja sudah susah mitra mencari mitra baru.

Akhirnya, yang bertahan jadi mitra itu juga yang masuk awal-awal. Yang masuk belakangan lebih banyak yang tak bertahan. Mereka keluar, lalu masuk lagi yang baru, yang juga tak bertahan lama. Yang masuk belakangan inilah yang semuanya rugi.

Yang rugi lebih banyak dari yang untung.

Contoh sederhana di kampung tadi. Satu orang untung, selebihnya buntung. Berapapun jumlah penduduknya, berapapun orang yang jadi mitra, matematikanya tetap sama. Yang buntung jauh lebih banyak dari yang untung.

Kok rugi? Mereka yang tak dapat mitra kan tetap dapat produk?

Dapat sih produk. Tapi produknya tidak mereka butuhkan. Akhirnya produknya cuma menumpuk, berdebu dan akhirnya dibuang. Rugi, kan? Mereka beli bukan karena butuh. Mereka beli karena iming-iming sukses dengan jadi mitra.

Produk yang sia-sia

Penjualan dengan cara iming iming sukses jadi mitra, bisa dipastikan produknya memang tak diminati. Orang minat sama iming iming suksesnya. Produknya sebetulnya tak dibutuhkan. Umumnya malah produk sampah yang jadi sia-sia. Kalaupun habis, habis dibagi-bagi ke orang lain. Siapa yang mau beli?

Tak percaya? Tanya saja para mitra eco racing. Kemanakah produk yang mereka beli dari kantor eco racing? Kalau mereka takut dosa, mereka akan jujur. Gak kejual kemana-mana. Paling habis dibagi bagi buat promosi sia-sia. 

Baca juga: Produk eco racing terbengkalai

Yang untung besar adalah bandar

Di perdagangan seperti itu, yang untung besar adalah bandar. Bayangkan di kampung tadi. Anggap semuanya akhirnya jadi mitra. 1 orang dapat motor. 999 orang rugi. Dan Febrian Agung tertawa ngakak. Apapun yang terjadi dengan 1000 orang itu, Eco Racing sudah berhasil ‘terjual’ sebanyak 1000 paket. Untungnya mungkin semilyar. Dikurangi ‘upil’ seharga motor buat reward mitra pertama.

Perdagangan berskema piramida itu terlarang

Permendag No. 70 tahun 2019 berisi aturan yang sebetulnya membuat orang seperti Febrian Agung tak bisa membuat cara penjualan seperti itu. Diantara aturannya, ada larangan untuk mewajibkan calon mitra membeli paket produk. Ini aturan yang sesungguhnya jos membuat Febrian Agung mati kutu.

Tapi aturan tinggal aturan. Kalau pengawasannya tak ada, aturan menjadi sia-sia.

Febrian Agung memang ahlinya

Febrian Agung itu sudah bermain dalam cara penjualan sesat sejak lama. Tack recordnya masih bisa di google. Dia pernah jadi Leader di Duta Network Indonesia (DNI). Dia juga pernah sukses membangun Duta Business School (DBS). Keduanya sama saja dengan Eco Racing. Menjual produk dengan iming-iming sukses jadi mitra usaha.

Baca juga: Kisah duka member di DBS

Febrian Agung di skema piramida DNI

4 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"