Hasil Uji Eco Racing: membuat motor lebih boros 4,7%

Satu hal yang belum dibahas di bahas bisnis tentang Eco Racing adalah klaim keiritan Eco Racing. Katanya Eco Racing bisa membuat BBM irit sampai 50%. Itu kata Febrian Agung. Febrian Agung itu pemilik perusahaan Eco Racing.

Ada juga banyak mitra Eco Racing yang bilang irit. Tapi hanya sekedar bilang. Mereka tidak melakukan pengujian secara metodis untuk mengambil kesimpulan. Hanya sekedar bilang merasakan motor lebih irit. Tidak mencatat berapa kilometer yang ditempuh, tidak membandingkan angka, tidak menganalisa.

Tokoh automotif Ronald Sinaga yang juga juragan automotive melakukan hal yang lebih baik. Pengujiannya cukup ilmiah walaupun ilmiah yang bisa dikatakan pop dan sederhana. Dalam arti bahwa pengujian itu dilakukan secara terencana, memakai metoda yang jelas, ‘reproducible’ dan tercatat sehingga dapat dilakukan analisa dan diambil kesimpulan yang obyektif. Paling tidak pengujian ini dilakukan secara metodis.

Pengujian dilakukan tanggal 15 – 20 Februari 2020. Hasilnya mengejutkan. Bahkan buat bahasbisnis.com pun mengejutkan. Tadinya saya pikir ini paling hemat 5%, tidak sampai 50%. Tetapi ternyata hasilnya diluar dugaan. Bukannya hemat, Eco Racing malah terbukti membuat bensin lebih boros.

Metoda pengujian

Karena tulisan ini ditujuan untuk Febrian Agung dan Randu SW yang anak ITB, gaya tulisan ini kita buat jadi gaya ilmiah. Supaya memancing Febrian Agung dan Randu SW juga memberi jawaban secara ilmiah.

Metoda pengujian keiiritan Eco Racing dilakukan Ronald Sinaga sebagai berikut:

Hipotesa:

Pemakaian Eco Racing membuat konsumsi BBM lebih irit. Febrian Agung terbukti tidak bohong mengatakan bahwa Eco Racing bisa membuat irit BBM sampai 50%.

Tujuan pengujian:

Disamping membuktikan hipotesa tersebut, juga ingin mengetahui berapa besar keiritan yang didapat.

Metoda pengujian:

  • Metoda dilakukan dengan komparasi konsumsi BBM tanpa Eco Racing dengan konsumsi BBM dengan Eco Racing.
  • Eco racing yang dipakai adalah eco racing dari mitra resmi Eco Racing, sehingga terjamin keasliannya.
  • Percobaan dilakukan dengan melakukan perjalanan jauh dari Solo ke Bali. Kendaraan yang dipakai adalah motor T-max. Etape kesatu sejauh beberapa ratus kilometer menggunakan tanpa Eco Racing. Etape kedua dengan Eco Racing.
  • Setiap awal etape percobaan, bensin diisi penuh dengan cara yang sama. Istilahnya sampai tumpah lalu catat kilometer pada odometer.
  • Di akhir etape, bensin diisi kembali dengan cara yang sama, sampai tumpah. Bensin yang diisi dicatat sebagai konsumsi BBM pada rute tersebut. Lalu catat kilometer pada odometer
  • Hasil dari kedua etape tersebut dibandingkan.

Hasil dan Analisa data

Data yang tercatat selama percobaan:

Etape satu, tanpa Ecoracing:

  • Kilometer odometer awal tercatat: 495
  • Kilometer odometer akhi tercatat: 792
  • Total jarak tempuh terhitung: 297 km
  • Konsumsi bahan bakar teramati: 12.778 liter
  • Konsumsi BBM per liter terhitung: 23,2 km/l

Etape kedua, menggunakan Eco racing:

  • Kilometer odometer awal : 792
  • Kilometer odometer akhir: 1094
  • Jarak tempuh: 302 km
  • Konsumsi BBM: 13,61 liter
  • Konsumsi BBM per liter: 22,2 km/l
Ronald Sinaga, Tokoh Automotif mengumumkan hasil pengujian Eco Racing, 24/2/2020

Kesimpulan hasil percobaan

1. Pemakaian motor dengan Eco Racing terbukti tidak benar

Jarak tempuh per liter lebih banyak bila bbm tidak menggunakan Eco Racing:

  • Tanpa Eco Racing: 23,2 km untuk setiap liternya.
  • Dengan Eco Racing: 22,2 km untuk setiap liternya.

Dalam satuan liter per kilometer:

Konsumsi BBM untuk setiap kilometer:

  • Tanpa Eco Racing, konsumsi BBM 0,043 liter setiap kilometernya
  • Edngan Eco Racing, konsumsi BBM 0,045 liter setiap kilomternya

Dari perhitungan diatas disimpulkan menggunakan Eco Racing malah lebih boros sebanyak 4,7 %

2. Febrian Agung keterlaluan ngibulnya

Febrian agung menyatakan dengan Eco Racing kendaraan bisa irit sampai 50%. Kata ‘sampai 50%’ itu berarti kinerja maksimum. Kalau hasilnya irit sampai 40%, Febiran Agung masih bisa dibilang tidak ngibul.

Kalau hasilnya sekitar 10%, bisa dibilang ngibul. Terlalu jauh variasi antara klaim dan hasil.

Kalau hasilnya malah bikin boros, maka ini bisa dibilang keterlaluan ngibulnya. Dan itulah hasil percobaan yang diperoleh. Febrian Agung keterlaluan ngibulnya.

Disclaimer:

Penulis memperoleh data dari unggahan Ronald Sinaga. Kesimpulan dibuat penulis atas dasar data tersebut.

Dalam kesimpulan ilmiah sebetulnya harus disebut lengkap, pemakaian eco racing dengan Tmax, bahan bakan pertamax dengan rute… dan seterusnya. Tapi Febrian Agung memberikan klaim tanpa spesifik menjelaskan kendaraan dan bahan bakar. Jadi, dianggap itu berlaku untuk semua kendaraan dan bahan bakar, termasuk T max dengan pertamax.

Video Ronald Sinaga dan hasil pengujian Eco Racing

9 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"