Duka di DBS, Febrian Agung ungkap sendiri kelicikannya

Kisah tentang DBS (Duta business school) ini seharusnya membuat orang lebih kenal dengan Febrian Agung. Bagaimana dulu dia meraih sukses dengan Moneygame DBS, bagaimana lalu DBS tinggal nama, bagaimana DBS meninggalkan para korban begitu saja.

Kisah ini juga seharusnya memberi gambaran bagaimana nasib para member Eco Racing nanti.

DBS adalah moneygame seperti Paytren. Sama-sama pura-pura jualan pulsa dan hak usaha. Kenapa moneygame? Karena mengandalkan pertambahan mitra baru berlipat ganda supaya mitra lama mendapatkan untung dan penghasilan.

DBS didirikan oleh Febrian Agung sekitar tahun 2007. Dia dan adiknya, Randu SW, sukses menjadi Leader di DNI (Duta Network Indonesia), lalu menjiplak sistem di DNI untuk membuat moneygame DBS.

Prinsip DBS sama saja sebetulnya dengan Eco Racing. Tanpa pertambahan member baru berlipat ganda, member tak akan dapat untung.

Iming-iming Febrian Agung di DBS

Sama dengan Eco Racing, DBS juga menggunakan iming-iming sukses. Tujuannya supaya orang jadi member lalu beli produk yang harganya sudah dimahalkan berlipat-lipat.

Ini iming-iming yang turut disebarkan oleh DBS: diambil dari tautan ini.

iming-iming kebebabasn finansial DBS
iming-iming kebebabasn finansial DBS

Iming-iming potensi reward Milyaran DBS
Iming-iming potensi reward Milyaran DBS

Fatwa halal MUI bagi DBS

Sama jug dengan Eco Racing, dulu DBS juga mendapat legitimasi dari MUI.

klaim DBS halal
Fatwa DBS halal halaman 1

Fatwa DBS halal halaman 2

Hallo MUI, apa kabar DBS Sekarang?

Kenyataan jauh dari iming-iming

Seperti halnya moneygmae lain, DBS pun bubar saat titik jenuh tercapai, saat tak ada orang yang berminat jadi member DBS.

Apakah ada orang sukses di DBS? Mungkin ada. Tapi pada moneygame, yang sukses hanya segelintir orang. Diantaranya pemiliknya sendiri. Selebihnya adalah orang yang menyesal telah membeli chips, membeli hak usaha DBS.

Untungnya di jaman medsos, gambaran tentang perihnya penyesalan itu masih bisa dilihat. Beberapa page yang tadinya ingin mempromosikan DBS masih tetap ada. Lupa dihapus, atau mungkin pemiliknya tak tahu cara menghapus (harap maklum).

Yang tersisa adalah keluhan yang menyedihkan

Berbagai komen menyedihkan ini diambil dari sebuah page di facebook. Beginilah komen di posting terakhir (tertanggal 25 Mei 2014)

Postingan di Facebook yang menual banyak komentar sedih

Berikut komentar-komentar yang mengikuti postingan tersebut.

Malu karena DBS, malah mengungkap kelicikannya sendiri

Sekarang Febrian Agung membuat moneygame baru: Eco Racing. Gencar sekali dia mempromosikan Eco Racing. Sama gencarnya waktu mempromosikan DBS.

Suatu hari, selagi Febrian Agung mempromosikan Eco Racing di Instagram, seseorang bertanya: Apa kabarnya DBS?

Secara mengejutkan Febrian Agung menjawab bahwa DBS dulu sudah berubah menjadi PT VSI dengan produk Paytren (moneygame serupa yang kini sudah mulai meredup).

Dalam postingan lain pun (juga di Instagaram) Febrian Agung menyatakan hal yang sama.

Hal perubahan DBS menjadi Paytren itu baru sekarang diungkapkan oleh Febrian Agung (terlepas dari apakah itu benar atau tidak).

Kalau saya korban DBS, saya akan bilang bahwa itu kurang ajar. Dulu DBS lenyap. Member-member yang masuk menjelang bubar rugi. Hak usaha sia-sia. Sebagian malah pulsanya hilang. DBS tak ada kabar.

Lalu 5 tahun kemudain seenaknya Febrian Agung bilang bahwa dulu DBS berubah menjadi Paytren.

Kenapa tak dari dulu bilang? Kenapa tak dari dulu mengumumkan pada semua member DBS? Kalau tau bahwa DBS menjadi Paytren, hak usaha dan pulsa harusnya diakui juga di Paytren.

Atau apakah sekarang para korban DBS bisa klaim memiliki hak kemitraan/keagenan di Paytren? (sayangnya sekarang sia-sia juga. Karena Paytren juga moneygame dan sudah pada fase jelang bubar).

Pernyataan Febrian Agung itu sama saja mengungkap kelicikannya sendiri sewaktu di DBS. Hak usaha yang dibilang berlaku seumur hidup itu menjadi tak ada gunanya dalam waktu beberapa bulan. Bukan itu saja. Karena perusahaan DBS memegang dana dari para agen (dalam bentuk pulsa), dana itu pun sia-sia. Dia menyembunyikan fakta bahwa DBS berubah menjadi Paytren. Dia membuat membernya rugi karena membeli hak usaha yang sia-sia. Sebagian juga rugi karena kehilangan pulsa.

Pertanyaan yang menarik: Apakah itu bisa disebut penipuan? Menurut saya sih yes. Apakah Yusuf mansur terlibat? Layak di duga kuat. Dua pihak itu tentu yang paling tau tentang pergantian dan perpindahan kepemilikan. Karena semua orang tahu, DBS milik Feberian Agung dan Paytren milik Yusuf Mansur.

Akankah Eco Racing akan bernasib sama?

MLM moneygame seperti DBS akan selalu jenuh pada akhirnya. Iming-iming sukses itu hanyalah potensi. Peluangnya hanya jadi nyata untuk segelintir orang. Sementara ribuan orang yang menjadi member saat MLM mulai jenuh, hanya mengalami kerugian. Rugi dari ratusan ribu sampai jutaan rupian.

Eco Racing akan bernasib sama dengan DBS. Eco Racing mengandalkan pertambahan member baru berlipat-lipat supaya member lama mendapat keuntungan. Tanpa member baru berlipat-lipat mereka akan gigit jari. Jualan produk? Tidak laku. Lihat saja Eco Racing harga di obral di Tokopedia. Itu jelas tanda tak laku. Sama dengan DBS yang mengaku jualan chips, hak usaha dan pulsa. Tapi chips dan pulsa dijual jauh di atas harga pasaran.

Skema yang mengandalkan pertambahan member berlipat-lipat pasti akan jenuh dan bubar. Seperti DBS, Paytren, juga Eco Racing.

Masih percaya dengan Eco Racing dan Febrian Agung? Mari.

11 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"