Kasus First Travel: Ganti Rugi bukan Mimpi?

Kasus first travel dibahas di TV. Tak sengaja lihat acara show pengacara beken. Judul acaranya First travel, ganti rugi bukan mimpi. Disitu dibahas tentang dana first travel. Ada korban, ada pengacara kedua pihak, ada anggota DPR. Ada yang bilang harusnya dari dulu PKPU, ada yang bilang sekarang harus perdata. Juga dibahas berbagai strategi supaya dana yang disita negara itu dikembalikan ke korban First Travel.

Dari sekian ribu kata yang berhamburan, ada satu yang penting yang tak disebut: Mr. Ponzi. Sebagai keponakan jauh Mr. Ponzi, sakit hati saya. Sakit hati karena ternyata mereka semua tak tahu bahwa Mr. Ponzilah yang menyebabkan itu semua. Tak tahu Mr. Ponzi, bagaimana bisa tahu solusinya? Sorry. Maksud saya, tak tahu Mr. Ponzi, bagaimana bisa tahu bahwa sebetulnya kasus first travel tak ada solusi?

Kasus First Travel itu skema Ponzi, kawan

Mari serius. Mereka semua tak ada yang menyebut skema ponzi pada kasus first travel. Tak paham bahwa kasus First travel adalah kasus skema ponzi, mereka tak bisa menganalisa secara cermat: Apakah mungkin dana itu kembali? Apakah membahas pengembalian dana itu bukan cuma membahas pepesan kosong?

Apa itu skema ponzi?

Mari bahas sedikit-sedikit. Skema Ponzi itu skema dimana investor lebih baru memberikan uang kepada investor lebih lama. Contoh, ada perusahaan menerapkan skema ponzi. Orang-orang berinvestasi disitu. Orang-orang mendapat keuntungan. Keuntungan ini bukan uang dari hasil bisnis, tapi uang dari investor yang baru masuk. Nanti member baru akan mendapat keuntungan juga. Uangnya dari investor yang lebih baru lagi. Begitu seterusnya. Kewajiban membayar keuntungan akan menjadi semakin besar. Ya kan karena investor harus bertambah terus. Akhirnya bangkrutlah. Artikel terkait: Memahami skema ponzi

Bagaimana skema ponzi pada kasus first travel

First travel memang tidak menerima investasi. Tapi alurnya sama dengan skema ponzi. Orang-orang membeli paket umroh dengan biaya murah. Murahnya banget. Kalau hitungan usaha, First Travel malah rugi. Lalu dari mana First Travel manambahi biaya? Bukan dari Dimas Kanjeng. Kalau itu betulan malah bagus. Bukan juga dari bisnis First Travel yang lain. Tapi dari…uang jamaah baru. Lalu jamaah baru mendapat tambahan biaya dari yang lebih baru lagi. Begitu seterusnya.

Dan ini yang perlu di catat dengan huruf tebal: Kekurangan itu makin lama makin besar, walaupun misalnya selisih biaya hanya 5 juta. Misalnya harga umroh sebenarnya 20 juta, Jamaah hanya perlu setor 15 juta, maka ini yang terjadi:

Kasus first travel sebagai skema ponzi
Skema ponzi umroh First Travel

Si A daftar 15 juta (kurang 5 juta)

Si B daftar 15 juta, 5 juta buat nambahi si A, sisa: 10 juta (kurang 10 Juta).

Si C daftar 15 juta, 10 juta nambahi si B, sisa: 5 juta (kurang 15 juta).

Si D daftar 15 juta, 15 juta nambahi si C, sisa: 0 (kurang 20 juta)

DALAM 4 PUTARAN SAJA SELURUH UANG UMROH PENDAFTAR TERAKHIR SUDAH DIPAKAI UNTUK NAMBAHI BIAYA UMROH PENDAFTAR TERDAHULU

Perhitungan itu memang terlalu disederhanakan. Tapi Matematika memerlukan penyederhanaan dulu supaya paham dasarnya. Pada prakteknya, setiap putaran mungkin jamaahnya lebih banyak. First travel berupaya untuk itu. Memang bisa. Kalau semua orang di Indonesia antri umroh di First Travel, kekurangan bisa ditanggulangi tapi…pun kalau terjadi ideal seperti itu, ada puluhan juta orang terakhir yang jadi korban. Hanya menambah jumlah putaran sebelum akhirnya juga tumbang.

Juga, dana jamaah pada kenyataannya bukan cuma untuk nambahi biaya umroh jamaah sebelumnya, tapi juga untuk promosi, foya-foya operator ponzi dan sebagainya.

Memahami First Travel sebagai skema ponzi seperti diatas, kita jadi tahu: Kemana itu duit para korban? Jawabannya: Sudah dipakai untuk nombok biaya umroh jamaah sebelumnya.

Memang ada sedikit sisa. Sedikitnya banget. Dari total uang jamaah yang lenyap, yang konon sekitar 900M, yang tersisa hanya sekitar 25M. Itu biasa di skema ponzi.

Jadi, apapun jalan yang ditempuh, mau peninjauan kembali untuk membatalkan penyitaan negara terhadap aset First Travel, mau PKPU, semuanya akan berujung pada: pepesan kosong. 25 M itu memang kelihatan besar. Tapi yang diminta adalah 900M. Okelah tidak kosong, tapi pepesan nyaris kosong.

Mari belajar sejarah

Uraian di atas atas dasar fakta matematis. Bagaimana dengan fakta historis? Sudah banyak kasus Ponzi di Indonesia. Dan dari semua itu jumlah kasus yang uang kembali adalah: 0 kasus.

  • Kasus Bowo Jenggot
  • Kasus Langit Biru
  • Kasus Cipaganti
  • Kasus Pandawa

Semua perjuangan korban bertahun-tahun untuk pengembalian dana sia-sia. Alasannya cuma satu sebetulnya: Dana korban tersebar di investor terdahulu yang sudah memperoleh keuntungan. Bagaimana mungkin mengebalikannya?

Membandingkan dengan kasus Abu Tour dan Solusi Balad Lumampah

Bagaimana dengan kasus serupa seperti Solusi Balad Lumampah (SBL) dan Abu Tour. Sama saja sebetulnya. Hanya saja asset tersisa dari Solusi Balad Lumampah dan Abu Tour masih lebih lumayan dibanding First Travel. Kenapa begitu?

Karena First Travel hanya menggunakan skema ponzi, Abu Tour dan SBL mencampur skema ponzi dengan skema piramida. Sementara Skema Ponzi membuat operator harus mencari tambahan biaya dari pendaftar baru, skema piramida membuat operator bertambah dananya dari para pembayar Down Payment yang terbujuk dengan slogan umroh gratis. DP-DP itulah (yang jumlahnya mungkin ribuan) yang jadi kekayaan tambahan si operator yang akhirnya dipakai untuk mengganti dana korban.

Perbedaan itu sudah dimuat di Bahasbisnis.com sebelum Abu Tour dan Solusi Balad Lumampah bangkrut: Abu Tour dan SBL, antara Arminareka dan First Travel.

Sekali lagi tetap harus diingat, sisa asset masih terlalu kecil. Di Abu Tour, sisa asset 200 M, sementara jumlah jamaah yang gagal berangkat 92 ribu orang. Baca berita ini. Kalau dibagi, setiap jamaah hanya mendapat 2 juta lebih sedikit. Itu belum dipotong untuk komisi kurator. Korban first Travel juga bisa seperti korban Abu Tour. Bedanya nanti, Korban First travel hanya mendapat sbeberapa ratus ribu per jamaah, belum dipotong biaya kurator.

Ganti rugi memang bukan mimpi, tetapi…

Ganti rugi first travel memang bukan mimpi. Bisa nyata, tapi nyatanya hanya beberapa ratus ribu rupiah.

Begitulah adanya skema ponzi. Apapun kata pengacara, bagaimanapun optimisnya beberapa orang dana akan kembali, semuanya harus menyadari: Dana itu hanya tersisa sedikit. Sudah terpakai untuk nambahi biaya umroh jamaah sebelumnya. Memang kasihan para korban. Tapi lebih mengenaskan lagi kalau setelah kerugian materi itu, mereka harus diberi harapan kosong.

Terakhir, sesungguhnya, melihat acara TV itu terasa geli. Geli campur gemas. Mengapa kalian tak mau kenalan dengan om saya: Mr. Ponzi. dialah yang bermain di First Travel. Om saya akan senang bila tak dikenal. Sebab dengan tak dikenal dia akan lebih bebas muncul dan muncul lagi.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"