MLM bisnis hebat, pelajari dengan cermat.



Kriteria MLM yang baik itu gampang: Tak ada kewajiban beli produk untuk jadi member, tak ada biaya pendaftaran (beli brosur dengan harga wajar itu tak termasuk biaya pendaftaran), membernya tidak fokus cari member baru dan produknya memang laku (bisa dilihat di berbagai online shopping. Bukan cuma tampil, tapi memang banyak yang beli dan puas). Tapi sayangnya MLM seperti itu hanya satu dua dari ratusan MLM yang ada di Indonesia. Selebihnya adalah MLM yang lebih dekat dengan moneygame alias skema piramida. Mereka menyebut bisnis mereka hebat, mengeluarkan segala bujuk, rayu dan berbagai klaim untuk satu tujuan: Mengeruk uang Anda. Apa saja klaim yang biasa mereka dengungkan? Mari kita simak.

MLM saya adalah Peluang bisnis dahsyat

Ini kebohongan nomor satu. Foto-foto para leader bersama mobil mewah, tempat-tempat eksotis biasanya mewarnai berbagai promosi tentang luar biasanya bisnis MLM.

Faktanya: Anda cari di google, gunakan kata kunci “succes rate MLM bisnis”. Ada berbagai studi dan semuanya punya kesimpulan yang sama: hanya sebagian kecil mitra MLM yang bisa hidup dari MLM.



Sebuah studi yang diterbitkan di FTC (Federal Trade Center – lembaga bentukan pemerintah Amerika Serikat) pada tahun 2011 (1) mengungkapkan kesimpulan yang mengerikan: 99.997% mitra MLM rugi. Jangankan bisa hidup dari MLM, tapi malah rugi. Dibulatkan, angka itu jadi 100%!

Robert Kiyosaki, guru kakayaan materi menyarankan MLM

So what? Siapa itu Robert Kiyosaki? Cuma pengarang buku Rich Dad Poor Dad, yang akhirnya menjadi bankrupt Dad (2). Penjual ludah yang dibanggakan oleh penyokong moneygame itu telah bangkrut. Ludahnya sudah tak laku. Dari dulu cuma kaya karena mengajarkan orang jadi kaya dengan berbagai buku dan seminar, khusus buat orang yang tak bisa berpikir panjang. Cukup aneh bahwa walaupun Robert Kiyosaki sudah bangkrut dari tahun 2012, di tahun-tahun ini masih ada orang di Indonesia yang menyebutnya guru.

Memberi untung karena jalur distribusi dipotong

Kalau ditanya bagaimana MLM bisa memberi keuntungan yang besar bagi para mitranya, perusahaan MLM biasanya menjawab: “Itu karena kami memotong jalur distribusi. Sementara perusahaan dengan sistem penjualan konvensional harus membangun berbagai cabang, mengirim barang dari gudang ke gudang sebelum ke pelanggan, kami memotong jalur distribusi itu sehingga ongkos distribusi lebih sedikit. Dari situlah kami memberi mitra kami untung”.

MLM yang bisa memberi bonus kepada mitra dalam prosentase yang besar itu sebenarnya sebenarnya dari harga produk yang jauh lebih mahal dari produk sejenis.

Memotong jalur distribusi itu belum tentu mengurangi biaya distribusi. Perusahaan yang hanya punya satu gudang besar belum tentu lebih hemat dari perusahaan yang punya gudang di berbagai tempat. Pertama karena ongkos pergudangan itu juga tergantung pada luas total gudang, baik terpisah ataupun jadi satu. Kedua karena biaya transportasi keseluruhan juga belum tentu lebih kecil dengan sistem terpusat. Bayangkan perusahaan yang punya satu gudang mengirim barang sedikit-sedikit ke berbagai tempat dibanding perusahaan yang punya gudang dalam jumlah banyak tapi mengirim barang selalu penuh se kontainer.

Produk kami adalah obat yang mujarab

Kebohongan ini biasa dilakukan oleh MLM yang produknya adalah supplement. Entah itu minuman atau makanan. Melia Sehat, Tiens adalah contoh MLM yang paling sering terdengar. Beberapa mitra MLM yang lugu malah tanpa berdosa menyebut produknya sebagai obat.

Yang mereka jual sebetulnya adalah makanan tambahan. Izin BPOM yang dimiliki pun pasti untuk kategori makanan. Paling jauh kosmetik. Yang pasti bukan obat. Sembarangan menyebut makanan dan kosmetik sebagai obat, bisa menyembuhkan penyakit sebetulnya melanggar undang-undang perlindungan konsumen.

Kebohongan ini, menariknya, sudah muncul sejak MLM pertama kali muncul (3). Jadi bisa disebut bawaan lahir.

MLM kami sudah masuk APLI

Masuk APLI (Asosiasi penjualan langsung Indonesia) sama sekali tak menjamin bahwa MLM itu bukan moneygame. Contoh nyata adalah Q-net. Siapa yang belum mendengar kasus Q-net? Di berbagai negara Q-net sudah dilayrang dan dicap sebagai skema piramida atau malah Ponzi (4).

MLM kami itu sudah mendapat sertifikat Syariah MUI

Tanpa bermaksud mendiskreditkan para Ulama, MUI memang tak punya kompetensi untuk menilai apakah suatu bisnis sesuai syariah atau tidak. Bukan karena para Ulama disana kurang canggih dalam fiqih syariah, tetapi karena mereka kurang canggih dalam dunia bisnis (dan itu memang sangat dimaklumi). Lihat kasus GTIS (5), bisnis yang dinyatakan sesuai syariah oleh MUI atau Gold Bullion (6). Entah oknum bagaimana di MUI yang tega menjerumuskan ummat dalam bisnis sesat.

Jadi, Masih layak ikut MLM?

Masih, tapi Anda harus mempelajarinya dengan cermat. Regulasi di Indonesia tentang skema piramida masih sangat minim. Dan yang minim itu pun tidak ditegakkan. Aturan untuk mempromosikan peluang bisnis belum ada. Itulah yang membuat kebanyakan MLM di Indonesia berani menjalankan skema piramida. Kebanyakan. Ada satu dua yang bukan.

Refference:

  1. https://www.ftc.gov/sites/default/files/documents/public_comments/trade-regulation-rule-disclosure-requirements-and-prohibitions-concerning-business-opportunities-ftc.r511993-00008%C2%A0/00008-57281.pdf
  2. https://www.forbes.com/sites/helaineolen/2012/10/10/rich-dad-poor-dad-bankrupt-dad/#35425fe2633a
  3. http://www.mlm-thetruth.com/mlm-history/
  4. https://en.wikipedia.org/wiki/Qnet
  5. https://ekonomi.kompas.com/read/2014/09/12/090000126/Dua.Petinggi.MUI.Terseret.Investasi.Bodong.GTIS
  6. http://www.tribunnews.com/metropolitan/2014/05/03/nasabah-tertipu-investasi-bodong-pt-gold-bullion-indonesia

 



Semua iklan dalam situs ini dimunculkan oleh google, tergantung apa yang pernah Anda cari di Google atau kata yang terkandung di artikel. Iklan kadang bertentangan dengan isi artikel, menampilkan apa yang dikritik dalam artikel, diluar keinginan pengelola situs.

Comments 2

  1. Sapar Bahrun Oktober 31, 2018
    • Brahm Anuga November 11, 2018

Leave a Reply