Pendapat para Ulama tentang Paytren dan Yusuf Mansur

Ustadz pintar bisnis? Bagus dong. Bisa jadi contoh bahwa kesalehan bisa dan memang seharusnya selaras dengan bisnis. Sebab pada hakikatnya bisnis adalah niat baik memberi manfaat ke orang lain, tanpa merugikan pihak lain. Kesalehan dan niat baik pasti sejalan tak terpisahkan. Tapi bagaimana kalau mengumpulkan dana orang tanpa pertanggungjawaban yang jelas, mengumpulkan sedekah dengan iming-iming dapat hadiah, menjadi promotor money game dengan alasan memajukan ummat? Lain lagi ceritanya. Itu patut diduga bukan datang dari niatan yang baik. Maka yang datang bukanlah pujian, melainkan kritik pedas.

Ustadz Ammi Nurbait tentang Paytren

Ustadz Ammi Nurbait secara panjang lebar menulis tentang paytren. Secara terus terang Ustadz Ammi mengatakan bahwa paytren bersifat gharar, mengandung ketidakjelasan yang dilarang olah agama Islam. Uraian lengkap dari Ustadz Ammi dapat dibaca pada: Hukum Paytren.

Tentang masalah sedekah yang sering dikaitkan dengan bisnis Yusuf Mansur, Ustadz Ammi mengatakannya dengan padat: “Seharusnya kita malu bersembunyi di balik motivasi indah untuk membela bisnis bermasalah”.

KH Athian Ali tentang ajaran ‘sedekah jadi kaya’ Yusuf Mansur

Sedekah ngarep materi. Kadang Yusuf Mansur bilang dengan bahasa keren The Power of Giving. Bukan power untuk kesehatan jiwa, tapi power untuk mendapakan imbalan. Tentang hal ini, KH Athian Ali mengatakan prihatin dengan kegiatan Yusuf Mansur yang  mengajak orang bersedekah dengan iming-iming mendapat harta yang berlipat dari Allah dengan dalil-dalil yang dijungkirbalikkan.

KH Athian Ali lebih lanjut mengatakan: “Semua ulama juga berpendapat, bahwa ibadah itu akan mendapat nilai kalau dilakukan dengan ikhlas. Bahkan kalangan sufi menilai, jika seseoran beribadah dengan harapan mendapat surga atau takut masuk neraka, maka nilainya makruh. Sedangkan ulama fiqih berpendapat boleh beribadah dengan niat masuk surga atau takut masuk neraka, karena Allah dalam Qur’an juga menjanjikan surga bagi yang beribadah dan beri ancaman neraka bagi yang lalai. Hanya saja, keikhlasan dalam beribadah tetap menjadi syarat utama. Qur’an juga memberi contoh doa para nabi yang mengharapkan surga. Tapi tak ada satupun yang dicontohkan para nabi, bahwa ibadah itu dengan harapan mendapat kenikmatan dunia. Juga tak ada satupun ulama yang mengajarkan itu, yakni ibadah dengan tujuan kenikmatan dunia”.

Sumber:  KH. Athian Ali: Mendiamkan Yusuf Mansur Sama Juga Membiarkan Umat Dalam Ketidakmengertian

Ustadz Abdul Shomad: Paytren sama sama dengan Pandawa dan Dimas Kanjeng

Menurut Ustadz Abdul Shomad, Kalau duit anggota bisa balik manakala dia tak dapat anggota lain, itu tidak dilarang. Tapi kalau tidak bisa balik, itulah ghoror. Bisa disimak disini: Ustadz Abdul Shomad tentang Paytren.

Ustadz Abudl Shomad juga secara jelas menyamakan Paytren dengan Pandawa dan Dimas Kanjeng. Suatu skema yang cuma menjaring anggota baru supaya dapat untung.

Ustadz DR Erwandi Tarmidzi tentang Paytren

Pada sebuah acara di sessi tanya jawab, seseorang menanyakan kepada Ustadz DR Erwandi:
“Afwan Ustadz, Pertanyaan Ana bagaimana hukum Paytren yang terkenal saat ini?”

Dijawab oleh Ustadz:
“Harom. cukup?…. ”

Doktor lulusan S3 Universitas Islam Al Imam Muhammad bin Saud, Riyadh, Arab Saudi (bandingkan dengan Yusuf Mansur yang S1 IAIN pun tak lulus) menjelaskan bahwa paytren juga membodohi masyarakat. Bisa dilihat di: DR Erandi tentang Paytren.

Diatas cuma sebagian kecil dari banyak Kiai dan Ustadz yang mengharamkan dan mempunyai kritik terhadap Yusuf Mansyur dan Paytren. Anda tetap ikut Yusuf Mansur?

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.

data-matched-content-ui-type="image_sidebyside"